|
JOJ 2001 Berakhir
Warna Baru
Pementasan Jazz di Indonesia
JAKARTA Open Jazz 2001 (JOJ) telah
berakhir. Sabtu (27/1) pekan lalu, malam puncak acara musik jazz
tersebut berakhir dengan konser jazz di kafe Taman Semanggi, Jakarta
Selatan. Penonton memadati kawasan yang penuh dengan ABG itu. Musik
jazz pun menjadi primadona pada malam itu.
Marching Band UI tampil sebagai
pembuka, membawakan dua buah komposisi. Lenggak dan gaya mereka cukup
menarik perhatian penonton. Apalagi komposisi yang dibawakan - yang
bernada jazzy, semakin mengantarkan penonton ke dalam atrmosfir
jazz. Dengan berpakaian hitam-hitam, anak-anak muda UI itu menunjukan
kebolehannya. Sambutan pun membahana.
Sebagai band pembuka malam itu, tampil
kelompok Rio Moreno dkk. Penampilan anak-anak asuhan Tjut Nyak Deviana Daudsjah,
yang pernah mengikuti serangkaian workshop itu, cukup bagus. Sekitar
empat komposisi jazz standar menghiasi penampilan mereka, yang
kemudian disusul oleh Fourtiedo, Irsa Destiwi dkk, Indra Lesmana, dan
Deviana Daudsjah Quartet.
Penampilan empat anak muda,
yang tergabung dalam Fourtiedo mendapat sambutan penonton yang meriah.
Pasalnya, di samping penampilan mereka yang memang baik, dua dara
remaja: Endah (gitar) dan Titiq (drum), paling mendapat perhatian
penonton. Banyak yang berdecak kagum dengan gaya dua ABG cantik yang
cukup piawai memainkan jazz standar.
Menyusul Fourtiedo, Irsa Destiwi dkk
juga tampil menarik. Begitu pula dengan penampilan Indra Lesmana, yang
kali ini didukung oleh Mates (bas), dan Sri Aksana Syumandjaya (dram).
Komposisi My Favorite Things mereka bawakan dengan enerjik. Penonton
seperti tersedot enerjinya, menyaksikan kepiawaian seorang Indra
Lesmana yang tampak semakin matang. Dukungan Mates dan Aksana menambah
enerjik komposisi tersebut.
Menutup konser JOJ malam itu, Tjut Nyak
Deviana Daudsjah, yang didukung Fiona Burnett (saksofon), Karoline
Hoefler (bas), dan Carola Grey (dram), tampil menawan membawakan empat
komposisi standar. Deviana, dedengkot JOJ yang didukung rekan-rekannya
itu, berhasil memukau penonton.
Sebelumnya, pada Jumat (26/1), JOJ juga
sukses menggelar The Regent's Jazz Meet II, di Lobby Hotel
Regent, Jakarta. Pada kesempatan itulah, untuk pertama kalinya di
Indonesia, sebuah marching band -- didukung oleh marching band
Universitas Indonesia -- tampil di sebuah hotel berbintang. Tiket
pertunjukan seharga Rp. 125 ribu laris tak berbekas.
JOJ, boleh dibilang, telah membawa
warna baru dari pementasan musik jazz di Indonesia. Kombinasi jazz
edukatif adalah sebuah konsep yang baru di Tanah Air. Apalagi
targetnya adalah anak-anak muda yang selalu dekat dengan hingar-bingar
musik sekelas Sheila On 7 atau Westlife.
Upaya Deviana memasyarakatkan jazz di
kalangan ABG terlihat cukup berhasil. Lihatlah acara workshop-nya yang
selalu penuh dengan peserta. Deviana sendiri terlihat cukup optimis
dengan aktifitas yang didukung oleh PT. Daya Audiovisi Performa dan
Yayasan Daya Bina Budaya ini. "Anak-anak muda Indonesia
sebenarnya memiliki bakat-bakat yang cukup potensial," ujar
Deviana. Mereka, lanjutnya lagi, harus didukung oleh pendidikan musik
yang baik.
Rencananya, seperti diungkapkan pihak
panitia, JOJ akan dirubah menjadi Indonesia Open Jazz. Nantinya, even
tersebut akan dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia. Sedangkan
pada April mendatang, pihak JOJ juga merencanakan untuk mengundang
siswa-siswa sekolah musik dari Eropa untuk tampil di Indonesia.
JOJ memang telah berakhir. Namun,
gaungnya telah menyadarkan banyak orang yang selama ini kurang
memperhatikan pendidikan musik jazz untuk generasi muda. JOJ hadir
dengan pertunjukan musik jazz yang edukatif dan menghibur. Sebuah
upaya regenerasi musik jazz di Indonesia. (yollismn)
Berita
lainnya
|