|
Konser Pata Masters:
Bercumbu Dengan Bunyi
Jumat, 7 November 2003, Pukul
23.45
WIB
Pekan lalu (29/10),
bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM),
Jakarta Pusat, PATA Masters, kelompok jazz asal Jerman, dan Kua
Etnika asal Bantul, Yogyakarta, tampil menawan memadukan dua
perpaduan: jazz (Barat) dan musik etnis Jawa (Timur).
Kolaborasi lintas budaya
ini mendapat sambutan yang baik dari publik jazz Jakarta dan
sekitarnya. Dialog-dialog musikal yang dibangun cukup
komunikatif. Pata Masters dan Kua Etnika berhasil membuka ruang
dialog musikal, yang membuat penonton tak perlu bersusah payah
memahaminya.

Djaduk Ferianto,
pentolan Kua Etnika, tampak dominan dengan celetukan-celetukannya
yang khas. Demikian pula dengan Norbert Stein, dedengkotnya
Pata Masters yang menikmati betul kolaborasi ini.
Komposisi-komposisi seperti Jiwa, I-Ging Kersan, Code Carnival,
Wulang Sunu, Juzzla Juzzli, dan Sing A Pure Song,
komposisi plesetan dari "Sing(a)pore Song", meluncur
tanpa beban.
Pata Masters adalah
kelompok jazz asal Koln, Jerman, yang dikomandani oleh saksofonis
Nombert Stein. Konsep musik jazz ala Pata Masters besar dalam
lingkungan musik klasik dan musik tradisional Eropa. Mereka terbiasa
dengan keteraturan baku yang formal dan teknis. Berbeda dengan Kua
Etnika yang kental dengan plesetan-plesetan musikalnya.
Gaya jenaka ala Kua
Etnika berhasil membangun suasana malam itu. Banyak penonton yang
tersenyum ketika Kua Etnika "bercumbu" dengan Pata Masters
melalui media puisi, Instrumentasi, bahasa tubuh, hingga ekspresi
para musisi. Kolaborasi yang layak mendapat apresiasi, sekalipun
pada beberapa bagian "dialog" tersebut terasa dipaksakan. (ymn)

Foto:
Horizon-line.Com/yollis
|