.

Buy Jazz Poster Here!

   

 

 

 

.

.
  Jazz Today!
Informasi seputar musik jazz yang terjadi di Indonesia maupun manca negara. Di-update secara berkala dengan gaya penulisan yang khas.
.

Home > Jazz Today! > Artikel

.

Jazz Merah Putih 2003:
Tunjukkan Eksistensi Musisi Jazz Bali
Sabtu, 6 September 2003, Pukul 13.05 WIB

UNTUK ketiga kalinya parade jazz digelar di Bali. Acara bertajuk Jazz Merah Putih 2003 (JMP) ini berlangsung meriah pada tanggal 30 Agustus 2003 lalu di Amphi Theatre, Mal Bali Galleria, Bali. Tak hanya pertunjukan jazz, kegiatan yang diselenggarakan oleh Bali Jazz Forum (BJF) ini juga memanjakan apresiasi pecinta jazz di Bali dengan menggelar kolaborasi seni dan jazz, pameran poster, foto, artwork jazz dan bazar yang menjual pernak pernik serba jazz. 

Nah, bagaimana kronologis dan penampilan masing-masing grup yang tampil di JMP 2003? Simak liputan Roullandi, yang melaporkannya untuk Horizon-line.Com, langsung dari Bali. 

Priceless
Priceless menjadi grup pembuka konser JMP 2003. Grup yang dibentuk khusus untuk ikut serta pada konser JMP ini terdiri dari Krisdharma (bass), Tian (gitar), Marthen (gitar), Eman (keyboard), dan Moris (Drum). Musisi-musisi muda asal Bali ini hadir dengan komposisi furion karya mereka: Ubud yang cenderung ke aliran progressiveBefore I Sleep, dan Chase The Terrorist.

Penampil berikutnya adalah Widi Noor & Friends, yang tergabung dalam AN Voices. Seperti juga Priceless, AN Voices yang didukung oleh Yani, Yana, Yuli, Willian, dan Johana juga dibentuk untuk konser JMP. Tampil dengan komposisi Yesterday dan Hidup Yang Sepi. Widi Noor, pianis yang sudah lama tinggal di Bali, yang mengaransemen kedua komposisi tersebut. 

Bonnie & Friends
Bonnie & Friends tampil kemudian setelah Widi Noor. Sayang, Bonnie yang sudah memiliki 5 album (Waltz for Moriko, Syncopator, Mesin2000, Berbagi Cerita, dan Take One), tidak membawakan karyanya. Bonnie tampil dengan komposisi jazz standar, dibantu dua penyanyi wanita.

Vital Statistic
Vital Statistic, yang digawangi Edo (drum), Rido (bass), Eko (keyboard), didukung Jessy, seorang vokalis asal Singapura tampil menarik. Penampilan vokalis ini menjadi daya tarik applaus penonton. Jessy memiliki kemampuan entertain yang membuat penampilan Vital Statistic lebih hidup. 

Balawan
Balawan kemudian tampil membawakan empat komposisi yang belum dirilis di album-albumnya. Dua komposisi pertama adalah Running dan Dreams. Penonton terlihat antusias. Ketika secara tak terduga Balawan menampilkan Roxanne dari The Police, applaus kembali membahana, lalu disusul dengan medley komposisi Hari Merdeka (H.Mutahar) dan St.Thomas (Sonny Rollins).

Ajakan Balawan agar penonton ikut menyanyikan Hari merdeka, yang liriknya sangat sesuai dengan tema acara JMP semakin memeriahkan suasana. Terdengar koor serempak dari penonton: Tujuhbelas agustus tahun empat lima - Ituah hari kemerdekaan kita...... riuh memadati suasana areal terbuka di Mal Galeria, Bali, malam itu. Balawan & Friends tampil sangat komunikatif.

Kayane
Kayane adalah grup yang tampil setelah Balawan, dan hadir dengan formasi barunya: Yuri Mahatma (gitar), Eko Sumarsono (Contra bass), Eddy (drums), Ammie Rossadie (vocal), dan Eric Sondhy (Keyboard), dan Murni Surbakti (additional vocal).  

Penampilan Kayane malam itu cukup istimewa. Tiga komposisi yang mereka tawarkan mampu mengekspresikan emosi mereka secara jujur dan kreatif. Song for My Kid menjadi komposisi pembuka. Yuri kemudian menyumbang karyanya, Why Not Love, pada sajian kedua. Kayane mengakhiri pentasnya dengan duet Ammie dan Murni dengan komposisi Bukan.

Jazz, Seni Rupa dan Puisi
Selanjutnya adalah aksi yang jarang dihadirkan pada sebuah konser musik jazz, yaitu kolaborasi seni musik, rupa, dan puisi. Tampilan ini merupakan eksplorasi kreatif dari tiga profesi seniman secara spontan. Koko Harsoe dan Eric Sondhy, yang mewakili musisi, memainkan jazz dengan gitar dan piano akustik. Lalu direspon dengan pembacaan puisi oleh Yoki (Tan Lioe Ie) dan Rudy Sri Handoko melukis diatas kanvas. 

Penonton tersentak kagum menyaksikan pembacaan puisi yang liar ditingkahi musik jazz-blues dan sebuah lukisan ekspresionis dengan ilustrasi orang bermain gitar dan piano berlatarkan warna merah putih. Tontonan improvisasi yang sungguh menarik.

YA! Voices
YA! Voices
grup acapela asal Jepang yang didukung 6 vokalis wanita, lalu tampil. Dengan diiringi tetabuhan perkusi, YA! Voices melantunkan komposisi-komposisi jazz standar seperti Sentimental Journey, Imagine, dan beberapa komposisi gospel. Penonton terlihat terhibur oleh suguhan harmoni pembagian vokal mereka.

Cherokee
Cherokee yang didukung Rio Moreno (piano), Kadek Rahardika (gitar), Harry Toledo (bass), Iwan Wiradz (perkusi), Tri Agus Muntoro (drum), dan vokalis baru mereka, Pompy, lalu tampil ke atas pentas. Tanpa basa basi mereka langsung memainkan komposisi  Windmills, Inner Beauty, Road 66, One Love Forever, Funny, El Montuno, dan Jangan Malu Malu. Cherokee mendapat sambutan yang bagus dari penonton, yang memang menantikan penampilan mereka.

Koko Harsoe Sextet 
Waktu bertambah malam ketika Koko Harsoe Sextet naik keatas panggung. Malam itu Koko tampil dalam format brass band tanpa pemain piano. Koko, yang  dibantu Boogie (drum), Dodi (bass), Rio (trumpet), Aswin (tenor sax), dan Azar (alto sax), menyajikan tiga komposisi yang ditulisnya untuk format brass, yaitu Boat Quay, Bali Recovery, dan Jazz@Blues. Tak seperti Balawan, Koko terlihat kurang melakukan komunikasi dengan penontonnya.

Rio - Saharadja
Setelah Koko Harsoe Sextet mengakhiri pentasnya, Rio yang membantu pada trumpet tak langsung turun panggung. Rio langsung tampil bersama grupnya, Saharadja, yang terdiri dari Rio Sidik (trumpet, vokal, gitar), Sally Jo (Violin), Ajat Lesmana (digeridoo, perkusi), Badut Widyanarko (bass), Barok Khan (tabla, perkusi), dan Gede Yudhana (gitar). 

Meski hanya menampilkan dua komposisi, grup ini mencuri perhatian penonton. Penampilan mereka dibuka dengan tiupan digeridoo oleh Ajat. Lalu dua buah komposisi, yaitu Celtic Jungle dan Tabla Man,  disuguhkan. Musik Sahardja terdengar sebagai hasil ramuan traditional celtic reel dengan improvisasi trumpet jazzy, dipadu dengan rhytms bass, perkusi dan dentingan gitar. Rio & Sally bersama Saharadja baru saja merilis album pertamanya yang berjudul One World pada Agustus 2003 ini.

YAA Orchestra
Malam telah menjelang pagi. Energi penonton seperti tak ada habisnya. Setelah Sahardja, tampil lagi grup kedua dari Jepang, YAA Orchestra, yang naik pentas dengan jumlah personel terbanyak. Tak kurang dari sembilan orang musisi, yang dipimpin oleh Yuko Shirota (piano), empat komposisi menarik langsung mereka sajikan. 

YAA Orchestra tampil dengan sangat rapi. Mulai dari A Whiter Shade of Pale, kemudian dilanjutkan dengan komposisi berjudul 3625, Mau ke Mana?, dan Impressions of Venus. Penonton bertepuk tangan setiap pemain menampilkan improvisasi solo yang tertib, hingga ketika YA! Voices kembali naik panggung bernyanyi mengakhiri penampilan YAA Orchestra.

Simak Dialog
Pada puncak acara, tampil Simak Dialog. Meski jumlah penonton sudah berkurang, dan sound system semakin menimbulkan kendala, grup yang digawangi oleh Riza Arshad (keyboard), Tohpati (guitar), Aditya Pratama (bass), Jalu G. Pratidina (kendang sunda), Taufan (additional drum), serta penyanyi tamu Oppie Andaresta tetap maksimal menghibur penonton. 

Simak Dialog langsung memainkan beberapa komposisi dari album-album mereka. One Has To Be dipilih menjadi komposisi pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi Simak Dialog dengan Oppie Andaresta, yang menampilkan This Spirit digabung dengan lagu Hitam ke Putih, Throwing Words, dan Unfaded Hopes

Komposisi terakhir Simak Dialog, Unfaded Hopes, agaknya sesuai   dengan harapan kita, para pecinta jazz, agar Jazz Merah Putih tetap berlangsung di tahun-tahun yang akan datang. Tetap gratis, dengan tontonan yang lebih berkualitas dan berkelas. 

Secara umum, Jazz Merah Putih 2003 cukup menarik untuk disimak.  Namun, jumlah grup pengisi acara dan jumlah panggung, kualitas sound system, sarana pendukung yang menunjang kondisi penonton juga harus menjadi prioritas pihak BJF. Semoga Jazz Merah Putih bisa menjadi cikal bakal dari Bali Jazz Festival, sebuah festival jazz internasional yang rencananya akan dilakukan di Bali tahun 2005 mendatang. Selamat buat Bung Ayip, Bali Jazz Forum dan idealismenya! (Roullandi)


Artikel terkait:
Jazz Merah Putih
Digelar di Bali 
New
BALI Jazz Forum (BJF) kembali menggelar konser musik jazz tahunan bertajuk Jazz Merah Putih (JMP), yang rencananya akan digelar pada hari Sabtu, 30 Agustus 2003 mendatang.

  Poster Jazz

.


Horizon Jazz Store New
Dapatkan poster jazz, buku jazz, cd/dvd, dengan harga menarik di rubrik Horizon Jazz Store. Anda juga bisa memesannya melalui kami!


.
 

Copyright © 1997 - 2001 Horizon-line.Com  All Rights Reserved | Contact Us

Gratis MP3 Jazz
Amazon Jazz
Paling Lengkap!

  My Horizon
  Newsletter
  Polling Jazz
  Free E-mail
  Zodiak Anda

  Jazz Board

  Jazz e-Card
.
  Direktori Jazz
  Majalah Jazz
  Jazz Styles
  Festival Jazz
  Workshop Jazz
  Label Rekaman
  Radio Jazz
  Foto-foto Jazz
  Klub Jazz
  Musisi Jazz
  Sejarah Jazz
.
  Intermezo
  Toko Musik
  Studio Musik
  Sekolah Musik
  Bursa Musik
  Agenda Budaya


Buku Jazz Pilihan