|
.

.
| Jazz@Astaga! |
Rubrik ini
tersaji atas kerjasama Horizon-line.Com dan portal musik
Astaga!Com. Artikel-artikel tentang jazz yang tersaji di
rubrik ini juga dirilis di kanal musik Astaga!Com.
. |
|
Home
> Jazz@Astaga! > Artikel |
Ireng Maulana,
Ruth Sahanaya dan Mus Mudjiono Nge-Jazz di UGM
Yogyakarta 15 Nov 01 10:40 WIB
Para tokoh jazz dalam negeri
berkumpul di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Rabu
(14/11) malam. Mereka yang hadir untuk memeriahkan "Jazz 52
Tahun UGM" di Gedung Graha Sabha Pramana itu adalah Mus
Mudjiono, Ireng Maulana, Idang Rasyidi, Ruth Sahanaya, Margi
Siegers, dan Syaharani.
Sadar bahwa musik
jazz memang belum begitu akrab di kebanyakan kalangan muda, maka
mereka pun menyuguhkan nomor-nomor easy jazz dan fusion,
kemudian di sana-sini dipadu dengan irama jazz murni, tapi tetap
saja dalam balutan easy jazz sehingga sekitar 2000 penonton
yang memadati gedung itu tidak terlalu berkerinyit dahi untuk
menyimak nomor demi nomor.
Ireng Maulana,
misalnya, dengan enteng-enteng saja memainkan komposisi Marilah
Kemari karya Titik Puspa, kemudian disambung dengan Kopi
Dangdut. Dua komposisi yang notabene 'bukan jazz' ini dikawal
petikan gitar Ireng dan diperkuat Idang pada piano serta Dullah pada
perkusi membuat penonton serentak bertepuk tangan secara ritmik.
Rektor UGM Ichlasul
Amal yang berada di deretan paling depan menonton hingga pertunjukan
itu bubar pada pukul 23.20 WIB. Apa kata dia ketika didaulat oleh
Ruth Sahanaya naik ke panggung?
“Saya tidak tahu
harus berbuat apa di panggung ini. Orasi atau menyanyi? Yang jelas
saya berharap pergelaran jazz di UGM ini menjadi tradisi jazz untuk
seterusnya," kata Ichlasul. Dan tentu saja disambut aplaus para
penggemar jazz di Yogya.
Ruth Sahanaya, yang
malam itu tampil dengan pakaian ketat dengan warna tentara yang
gemerlapan, bisa menghangatkan suasana dengan tampilan nomor Saving
All My Love for You, Memori ciptaan Oddie Agam, dan You Have
Got a Friend. Bocah Yogya, yang kebanyakan memang mahasiswa itu
memang tidak sulit mengikuti apa yang didendangkan Ruth. Lagu-lagu
itu sudah akrab di telinga penonton.
Jika kemudian lagu Memori,
misalnya, dipelesetkan ke jazz, tetap saja enak di telinga. Bahkan
ketika si cantik Syaharani melantunkan Caravan, Clever, In Love
with You, maupun Copacabana bercengkok jazz, Cah
Yogya itu pun menyambut dengan antusias.
Jika dalam beberapa
kali permainan Mus Mudjiono maupun Ireng membuat para penonton
menghentakkan kakinya ke lantai, larut dalam irama easy jazz, maka
buru-buru pembawa acara Mayong Laksono mengingatkan agar kaki tidak
perlu dihentakkan di gedung yang hanya sering dipakai untuk seminar
dan wisuda itu.
“Saya dibisiki ahli
konstruksi gedung ini dibangun bukan untuk tontonan dengan cara
menghentakkan kaki. Cukup dengan tepuk tangan saja,” ujar Mayong.
Dan kemudian ketika Mayong berusaha menjelaskan apa sebenarnya musik
jazz itu, maka penjelasannya sebenarnya tidak begitu perlu lagi
sebab jazz itu sudah mengalir dengan mudah di nadi 'Bocah Yogya'
yang dikenal punya apresiasi seni lumayan tinggi.
Bukan hanya jazz yang
mampu 'ditelan' bocah Yogya. Dangdut, degung, lengger, gamelan,
blues, uyon-uyon, campur sari, pop, rock, underground, sampai dengan
musik klasik dengan gampang dilalap Cah Yogya. Jadi, 'Yong' Mayong,
santai sajalah.
Dan ketika penyanyi
jazz yang tengah naik daun, Syaharani tampil di penghujung acara,
maka itu seolah janji bahwa jazz akan manggung lagi pada tahun depan
di UGM.
“Saya memang ingin
jazz di Yogya, khususnya di UGM ini menjadi salah satu kiblat jazz
di Indonesia. Jadi jangan hanya di Jakarta saja,” ujar Tony
Prasetiantono, pengamat ekonomi UGM yang menjadi ketua
penyelenggara. (lintang)
|
Dukung
Horizon-line.Com dengan berbelanja di Horizon
Store
Dapatkan poster
jazz, CD/VCD, Majalaj Jazz, instrumen musik,
hingga buku-buku jazz terbaru! |
|