|
.

.
| Jazz@Astaga! |
Rubrik ini
tersaji atas kerjasama Horizon-line.Com dan portal musik
Astaga!Com. Artikel-artikel tentang jazz yang tersaji di
rubrik ini juga dirilis di kanal musik Astaga!Com.
. |
|
Home
> Jazz@Astaga! > Artikel |
|
. |
Matra
Jamz Jazz: 9 Local Genius Jazz!
Jakarta
- 23 Nov 00 15:46:29 WIB
9 Local
Jenius Jazz, siapa sih mereka? Jika Anda barang dua tiga kali
hadir di pentas jazz Jakarta, maka sosok-sosok di bawah ini dijamin
tidak asing lagi. Indra Lesmana, Oele Pattiselanno, Jefrrey
Tahalele, Cendy Luntungan, Embong Raharjo, Benny Likumahuwa, Sam
Panuwon, Jacky Pattiselanno dan Syaharani, hampir tak pernah absen
pada even jazz manapun di Indonesia.
Mereka adalah
seniman yang berpenghidupan dari musik. Hampir setiap malam mereka
main musik, main jazz. Bahkan mungkin setiap saat mereka memikirkan
jazz. Singkatnya mereka adalah aktivis jazz dalam pengertian yang
sebenarnya.
Tarikan nafas
dan denyar-denyar nadi yang serba jazz inilah yang membawa mereka
menyandang predikat virtuoso. Sebuah kata yang merujuk pada
kecanggihan bermain, penguasaan instrumen, penguasaan panggung yang
prima, skill dan kepiawaian. Julukan itu semua pantas dialamatkan
pada para pendekar jazz di atas.
Virtuoso
inilah yang jadi bahasan utama pagelaran perdana Matra Jamz Jazz
yang kali ini mengemas acaranya dengan tema 9 Local Genius Jazz,
Rabu (22/11) malam, di Jamz Pub, Jakarta.
Matra memang
bergandengan tangan dengan jazz sejak lama dengan branding
nama Jamz Matra Jazz. Beberapa tahun lalu mereka sibuk dengan
kemasan istimewa yang mengusung para pendekar jazz dalam rangkaian
virtuositi instrumentasi, macam Tujuh Pendekar Gitar, Tujuh
Pendekar Bass, Piano, dst.
Mereka bahkan
pernah membuat publik jazz terkenang-kenang dengan pagelaran
fantastis, Jamz Matra Big Band di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Puluhan musisi muda-tua yang gape main jazz ngumpul dan main bareng.
Itu kejadian
tahun 1996. Rabu (22/11) malam, di Jamz, Fikri Jufri, boss majalah
Matra mengingatkan kenangan lama itu dalam sebuah pidato penuh
wibawa dan haru. Ia menyatakan kerinduannya untuk mendengarkan jazz.
Dan kaget ketika diberitahu bahwa komunitas jazz seperti yang ada
dan hadir di Jamz sudah berjalan selama 3 tahun.
Barangkali
inilah makanya pergelaran Jamz Matra Jazz dihidupkan kembali. Dulu
tokoh dibalik ini barangkali bisa disebut salah satunya adalah Deded
ER Moerad, wartawan yang juga penulis buku Jazz Indonesia.
Sekarang Jamz Matra Jazz dipromotori AIRO, milik pengusaha yang
pemusik, bos Kantata Takwa, Setiyawan Djodi.
Bandleader
diserahkan pada Benny Likumahua, musisi multi instrumentalis yang
maut tiupan trombonnya. Benny juga bertindak selaku juru bicara. Ia
menerangkan apa saja, mulai apa itu virtuoso hingga sejarah
jazz. Benny memang pantas tampil dalam sosok seperti itu. Yang jelas
karena dia mampu, selain juga punya wibawa di kalangan musisi.
Benny pulalah
yang menggiring pagelaran malam itu ke nuansa jazz era 1945-55,
meski tak dipungkiri flavor era sesudahnya juga terasa. Dalam
lagu Yesterdays ia bangkitkan semangat penikmat jazz yang
cuma segelintir itu dalam suasana riang progressive jazz lewat
dialog dua bas. Bersama Jeffrey Tahalele bunyi bas mereka amat
kohesif.
Oase di padang
pasir muncul di tengah pertunjukan. Syaharani, vokalis nan cantik
yang kini gemar bertualang jazz di mana-mana ini unjuk kebolehan.
Tiga lagu pertama yang dilantunkannya menyiratkan asumsi bahwa
dialah vokalis jazz wanita terbaik negeri ini.
Genius Jazz,
mungkin julukan berlebihan. Karena Benny, Cendy, Jeffrey dan
lain-lainnya toh tidak peduli dengan berbagai julukan. Yang ada di
benak mereka bagaimana menyuguhkan jazz sebagai tontonan untuk
publik yang masih harus dituntun bagaimana menikmati jazz. Sebagai
entertainer yang berpengalaman mereka faham benar apa yang
disuguhkan malam itu. Sebagai jazzer yang sudah punya jam terbang
tinggi, rasanya jazz sudah menjadi naluri. Dan ini akan keluar pada
suguhan musik mereka. Apapun kemasannya. (mhidayat/dsecaatmaja)
|