|
.

.
| Jazz@Astaga! |
Rubrik ini
tersaji atas kerjasama Horizon-line.Com dan portal musik
Astaga!Com. Artikel-artikel tentang jazz yang tersaji di
rubrik ini juga dirilis di kanal musik Astaga!Com.
. |
|
Home
> Jazz@Astaga! > Artikel |
|
. |
Krakatau,
Musiknya Tak Pernah Tuntas
Jakarta 14 Mei 02 11:59 WIB
Dekade 80-an boleh
dibilang jenjang keemasan (kembali) musik jazz di tanah air. Banyak
grup baru muncul mengusung genre musik yang kayak improvisasi
ini. Dan Krakatau adalah salah satu dari sekian banyak grup
jazz yang lahir di kurun waktu tersebut. Tepatnya pada tahun 1985.
Berawal dari perjumpaan Dwiki
Dharmawan, Donny Suhendra, Budhy Hartono, dan musisi berbakat
yang baru datang dari Amerika, Pra B Dharma di tahun 1984.
Empat pemuda yang biasa nge-jam di ajang Jazz Break di Bumi
Sangkuriang, Bandung ini kemudian membentuk grup bernama Delta,
lalu berubah jadi Mesopotamia.
Setahun kemudian jadilah nama
Krakatau dengan mengusung warna jazz rock dalam musik mereka.
Berbagai festival bergengsi kemudian mereka rambah, salah satunya Yamaha
Light Music Contest di Tokyo Jepang, yang menasbihkan Dwiki
sebagai The Best Keyboard Performer.
Dua nama baru, Harry Mukti dan
Ruth Sahanaya lalu bergabung sebagai vokalis. Namun memasuki
era panggung rekaman di 1986, ada perubahan personel, Gilang
Ramadhan masuk menggantikan Budhy, dan Trie Utami ditunjuk sebagai
vokalis.
First Album menjadi
album pertama mereka dan melahirkan hit Gemilang dan Imaji.
Saat itu warna musik Krakatau pun berubah menjadi lebih pop.
Demikian pula dengan Second Album (1987) yang
memunculkan La Samba Primadona, album ketiga, Kembali
Satu (1988) dengan hitnya Kau Datang.
Setelah itu, selama dua tahun,
Krakatau pun memasuki masa vakum. Indra, Gilang, dan Donny bahkan
mundur, lalu membentuk Adegan bareng Harry Mukti dan Matez.
Hanya Pra, Dwiki, Iie, dan Budhy yang tetap mengusung nama Krakatau,
hingga melahirkan album Let There Be Life.
Kelahiran album ini kemudian banyak
membawa perubahan signifikan pada format musik Krakatau. Berubah
total dari pop jazz ke musik yang ber-basic karawitan Sunda,
yang dipadukan dengan scale jazz dan energi rock. Untuk
keperluan tersebut, 'The Gamelan Boyz' yang terdiri dari Adhe
Rudyatna, Zainal Arifin, Yoyon Dharsono pun diundang, dan
melahirkan album Mystical Mist.
Dengan format seperti ini, Krakatau
terus berkiprah hingga tampil memukau di kancah Jak Jazz '94
dan '95. Format jazz karawitan sunda ini membawa mereka ke berbagai
festival mancanegara, semacam Manly Jazz Festival (1997) dan Indonesian
Music Celebration di Midem, Cannes Prancis (2001).
Bahkan seorang etnomusikolog
terkemuka Amerika, Profesor Anderson Sutton, memasukkan dua
album terakhir Krakatau, Mystical Mist dan Magical Match
dalam karya tulisnya. Saat ini dua album tersebut menjadi bahan
perkuliahan etnomusikologi di wisconsin University dan berbagai
sekolah musik di negeri Paman Sam.
Nah hingga 17 tahun usianya sekarang
ini, dengan berbagai perubahan format musik yang dilakukan selama
ini, Krakatau masih tetap eksis. Ada anggapan, musik Krakatau memang
tidak pernah selesai. Para personelnya selalu melakukan eksperimen,
dan tak pernah tuntas. Satu hal yang menurut Indra, sangatlah wajar.
"Karena esensi dari musik jazz sendiri adalah inovasi,
senantiasa hadir dengan ide-ide baru, dan kejutan," imbuhnya.
Kalau begitu, kejutan apalagi yang
bakal dimunculkan Krakatau dalam 'konser reuni' mereka yang bakal
berlangsung di JCC, Senayan, Jakarta, 16 September nanti?
Beritanya masih harus ditunggu.
(deny secaatmaja)
|