|
.

.
| Jazz@Astaga! |
Rubrik ini
tersaji atas kerjasama Horizon-line.Com dan portal musik
Astaga!Com. Artikel-artikel tentang jazz yang tersaji di
rubrik ini juga dirilis di kanal musik Astaga!Com.
. |
|
Home
> Jazz@Astaga! > Artikel |
Apa
Kata Mereka Tentang Jakarta
Open Jazz 2001?
Jakarta - 16 Jan 01
11:00:46 WIB
Jakarta Open Jazz 2001 (JOJ)
sudah beberapa digelar. Penikmat musik jazz Jakarta seakan
dibuai dengan suguhan jazz yang sedikit berbeda dari yang
biasa mereka terima beberapa tahun terakhir.
Konsep educating &
entertaining yang dikembangkan lewat ajang ini bisa jadi
membuka mata kita betapa pentingnya pemahaman dasar musik
jazz. Pemahaman ini tentu saja akan menambah tingkat apresiasi
akan musik tersebut. Apalagi kalau ternyata Anda juga seorang
pemain musik dan tertarik jazz sebagai dasar permainan musik.
Ngomong-ngomong mengenai hal
ini, berikut kami petik beberapa komentar penonton, musisi,
pemerhati musik, dan para penampil di ajang heboh JOJ.
Carolla Grey, dramer Jerman,
pemberi materi dan penampil
pada JOJ 2001
"Ajang ini adalah pertama kalinya saya berperan dalam
sebuah program yang menggabungkan dua konsep yang berbeda satu
sama lain, edukasi dan entertain. Sebelumnya, saya memang
pernah memberi sesi workshop pada dramer-dramer muda di
Jerman, namun untuk memberi sesi workshop di luar negeri, baru
kali ini. Maka dari itu, saya nggak segera menyetujui ajakan
Deviana untuk ikut berpartisipasi di program ini. Namun,
setelah melihat tujuan mulia yang terselip di balik
penyelenggaraan program ini, hati saya terketuk dan berterima
kasih karena telah terpilih untuk menjadi instruktur dan
membagi pengalaman saya kepada para jazzer muda di
Indonesia."
Karoline Hoeffner, basis
Jerman, pemberi materi dan penampil pada JOJ 2001
"Saya senang sekali diajak untuk berpartisipasi pada
program ini. Memang sebelumnya saya hanya memiliki pengalaman
mengajar di Eropa dan Amerika saja. Kali ini adalah pengalaman
pertama saya mengajar di Asia. Saya sadar negeri Anda memiliki
banyak pemuda yang memiliki talenta tinggi dalam memainkan
musik jazz, hanya saja talenta itu kurang mendapat polesan
sehingga hasilnya kurang maksimal. Mudah-mudahan saja dengan
diselenggarakannya program ini segala hambatan yang ada
sekarang bisa berkurang satu per satu dan negeri Anda akan
memiliki jazzer-jazzer berkualitas dan berkaliber dunia."
Deri Mouritz, praktisi
musik, kibordis kelompok Bunglon
"JOJ 2001 kayaknya lebih asyik dari ajang jazz yang
pernah ada tahun-tahun yang lalu. Soalnya, selain bisa nonton
ada juga klinik jazz yang pasti berfungsi bagi orang-orang
kayak gue yang pingin ngedalemin jenis musik ini. Apalagi
ajang ini diadakan di tempat-tempat yang strategis kayak Kafe
Taman Semanggi, Klub 45, Waroeng Kemang dan Hotel Regent.
Pasti deh makin banyak orang yang tertarik dan ikutan
memperdalam musik jazz."
Djoko Adnan Supriyono,
wartawan dan pemerhati musik Jakarta
"Yang jelas para praktisi jazz lokal jadi bisa makin
tahu banyak hal mengenai musik jazz. Mudah-mudahan setelah
ajang ini usai, makin banyak praktisi jazz yang menonjol di
tanah air. Selain itu, penyelenggaraan ajang ini juga bisa
dijadikan batu loncatan untuk menghilangkan cap musik ekslusif
yang disandang jazz selama ini. Kita bisa tahu bahwa anggapan
itu sama sekali nggak benar dan jazz sebenarnya bersifat
terbuka dan bisa dinikmati oleh seluruh pencinta musik tanpa
kecuali."
Tina, mahasiswi, pencinta
musik jazz yang ikut menghadiri
JOJ 2001
"Gue baru sadar kalau ajang seperti ini bisa memberi
manfaat lebih bagi kita pencinta jazz. Gue berharap program
model begini nggak putus di tengah jalan. Sayang banget kalau
program yang sudah dirintis ini tiba-tiba menghilang dari
peredaran."
Anda punya komentar lain
mengenai JOJ 2001, atau bahkan punya usulan lain mengenai
teknik pengembangan musik jazz yang bisa efektif jika
diterapkan di negeri ini? (junior ryo ep)
|